Langit gelap menandakan akan segera turunnya hujan. Seorang gadis
duduk tanpa menghiraukan dinginnya angin tersebut. Rintik-rintik hujan
mulai turun, namun gadis itu belum pergi meninggalkan tempat itu. Dia
berdiri, melangkah kedepan dan berteriak “Aku pasti bisa! Percayakan
pada Alisa, Vion!”. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya setelah
mengucapkan kata itu. Kemudian, dia langkahkan kakinya meninggalkan
tempat itu.
Keesokan harinya, Alisa berangkat seperti
yang biasa ia lakukan. Namun kali ini, ia membawa sebuah surat. Ya!
Sebuah surat yang akan menjelaskan semuanya. Ini akan segera berakhir, tidak lama lagi! Segera, Alisa melajukan motornya dalam keramaian jalanan pagi hari.
Baru 15 menit ia mengendarai motornya, sebuah mobil menabrak Alisa.
Darah mengalir bercucuran dari dengkul dan lengannya namun ia tetap
berusaha untuk mengendarai kembali motornya. Meskipun sakit, Alisa
berusaha sekuat tenaga. Dia kerahkan sisa tenaganya agar segera sampai
di sekolah dan menemui seseorang itu.
***
Alisa berlari dengan lutut yang berdarah. Dipeganginya lengannya sambil
meringis kesakitan. Tiba-tiba, Alisa menangkap sesosok bayangan yang ia
cari.. Ya! Dia adalah orang yang ingin ditemui Alisa. Dikejarnya sosok
itu, namun bayangan itu semakin menjauh. Alisa merasa tak sanggup lagi
untuk mengejar sosok itu. Dia terjatuh, merintih kesakitan. Dicobanya
untuk berdiri namun gagal. Apakah aku hanya bisa sampai sini? Tidak! Aku sudah berjanji!
Dipejamkannya mata Alisa seperti sedang menunggu. Beberapa detik
kemudian, dibukanya perlahan matanya dan sebuah teriakan keluar dengan
kencang dari bibir Alisa. “Veron!!!”. Teriakan itu berhasil. Ya!
Teriakan Alisa berhasil menghentikan langkah Veron. “Veron! Tolong
dengarkan aku!” lanjut Alisa.
Veron memutar tubuhnya
dan berjalan menuju Alisa. Sepertinya Veron menuruti permohonan Alisa.
“5 menit!” ucapnya dingin tanpa menatap Alisa. “Thanks! Ini, aku hanya
ingin kau membaca ini!” ujar Alisa sambil menyodorkan sebuah surat.
Mata Veron menatap Alisa keheranan. Baru pertama kali Alisa memberikan
sebuah surat. Aneh, itulah pikiran Veron sekarang tentang Alisa.
Bagaimana bisa seorang Alisa membuat sebuah surat? Alisa bukan orang
yang suka dengan hal berbau surat. Dia lebih suka dengan rekaman atau
berbicara langsung. Pertanyaan itu terus mengganjal dipikiran Veron.
Namun dalam sedetik kemudian, Veron teringat dengan surat itu. Ya! Dia
buka surat itu dan perlahan-lahan dia baca.
Jleb!
Jantung Veron seakan berhenti saat membaca sebaris kalimat dalam surat
itu. Ya! Ini adalah surat dari dia. Seseorang yang telah membuatnya
berhenti meraih cinta.
Buat sohib gue, Alveron Ferdiansyah
Hei, bro. Gimana kabar lo? Hm, lo masih marah sama gue? Sebenarnya, gue
sama Frisya gak ada apa-apa. Suer! Gue nganggep Frisya tuh kayak adek
gue sendiri. Jadi, kalau lo kira gue sama Frisya ada hubungan spesial
itu salah besar. Adanya hubungan special kakak adik. Hahaha.
Hmm, jadi lo udah gak marah lagi, kan? Gue harap sih lo maafin gue.
Lagian lo kan juga tau, kalau cinta pertama gue adalah Alisa. Masa gue
mau ambil cinta pertama sohib gue! Gak keren dong.
Oke,
semua udah beres, kan? Berarti ini hanya kesalahpahaman, kan? So, lo
jadi dong nembak si Frisya? Tenang aja, si Frisya tuh juga suka sama lo.
Dan gue yakin 100% dia bakal nerima lo. Kalau begitu buruan sana lo
tembak si Frisya. Gue doain dari sini.
Oh iya, Ver tolong bilang ke Alisa bahwa gue suka sama dia dan Alisa
adalah cinta pertama gue. Titip Alisa, Ver. Jangan sakiti Alisa kalau lo
gak mau arwah gue gentayangan. Satu lagi, tolong cariin cowok yang
tepat buat Alisa. Karena gue sekarang udah gak ada dan gak bisa jaga dia
lagi. Thanks semuanya, Ver.
Maafin gue kalau gue banyak salah sama lo. Semoga lo bahagia sama Frisya.
Bye, Veron
Ravion Saputra
“Bagaimana? Kamu sudah mengerti, kan?” tanya Alisa tersenyum ke arah
Veron. Veron duduk jongkok menghadapkan wajahnya ke Alisa dan
memeluknya. “Maafin aku, Lis! Maaf!” ucap Veron dengan suara bergetar.
“Kau ini, Veron! Selalu saja berulah. Kali ini aku tidak bisa
memaafkanmu!” balas Alisa dengan nada serius. Veron melepaskan
pelukannya. Wajahnya menggambarkan penyesalan dan kesedihan.
Tiba-tiba saja, keheningan itu diisi oleh suara tawa. Suasana berubah.
Yang tadinya hening kini terisi oleh suara tawa. Ya! Suara tawa itu
berasal dari Alisa. Veron menatap Alisa dengan pandangan tak percaya. Alisa tertawa?
“Kamu tertawa, Lis? Kam… mu?” ucap Veron terbata-bata terhadap apa yang disaksikannya sekarang.
“Veron… Veron!!! Mana mungkin aku tidak akan memafkanmu. Huuu!!”
ucap Alisa sambil memonyongkan bibirnya. Tanpa sadar Veron langsung
memeluk Alisa. Dia tersenyum bahagia. “Thanks Alisa! Hmm, aku tau
sekarang mengapa Vion menyukaimu. Karena kamu adalah gadis yang baik
hati dan pemaaf!” bisik Veron ditelinga Alisa. Ucapan Veron membuat
wajah Alisa bersemu merah karena malu. Diusapnya kepala Alisa oleh Veron
karena geli melihat wajah Alisa.
“Darah?” ucap
Veron tiba-tiba saat melihat tangannya ada bekas - bekas darah.
Dilihatnya kepala Alisa dan ia menemukan darah mengalir. Mata Veron kini
beralih ke wajah Alisa. Ditatapnya Alisa dengan penuh tanda tanya.
“Lis, kamu habis kecelakaan?” tanya Veron membuat Alisa terkejut. Alisa
diam, panik dan takut bagaimana harus menjawab pertanyaaan Veron itu.
Dibenamkannya wajah Alisa membuat Veron semakin yakin bahwa Alisa memang
habis kecelakaan.
“Ayo ikut aku. Aku antar kau ke
rumah sakit!” perintah Veron. Diulurkannya tangan Veron ke Alisa dan
Alisa membalas uluran itu. “Awww…” teriak Alisa mengerang kesakitan saat
mencoba berdiri. Veron melihat itu dan mendapati bahwa lengan dan lutut
Alisa berdarah. Dengan sigap, Veron menggendong Alisa dan melangkahkan
kakinya menuju parkiran.
“Ver! Stop! Gak usah dianter ke rumah sakit, oke? I’ll be fine!”
ucap Alisa tegas sambil menatap manik-manik mata Veron. Veron tetap
melangkahkan kakinya tak peduli dengan ucapan Alisa. “Veron! Please deh!
Sekarang tuh Frisya lagi di bandara! Daripada kamu nganterin aku lebih
baik kalau kamu ke bandara!”.
Veron menatap mata
Alisa tajam. “Lis, emang aku setega itu? Gak bakalan lah aku ninggalin
kamu! Meskipun itu Frisya sendiri! Karena aku sudah berjanji sama Vion
dan aku juga gak setega itu ninggalin kamu yang lagi sakit!” ucapnya
tersenyum. Alisa terharu mendengar ucapan Veron. Namun,kata hatinya
lebih memilih untuk menyuruh Veron menemui Frisya sebelum semuanya ada
penyesalan.
“Veron, tolong aku dong.” ujar Alisa
memohon. Veron memalingkan wajahnya menatap wajah Alisa dengan senyuman
khasnya. “Ada apa?” tanya Veron. "Hmm..., aku ingin kamu ke dia
sekarang,” ucap Alisa sambil menatap mata Veron.
"Tapi Lis, kamu itu habis kecelakaan. Masalah dia bisa nanti lagi dan..." ucapan Veron terputus.
"Dengerin
aku! Kamu gak perlu khawatir masalah aku, yang penting itu sekarang
kamu! Kamu tahu, kan kalau sekarang kamu gak ketemu dia sekarang kamu
akan menyesal, Ver! Sana temuin Frsya!" perintah Alisa.
"Tapi gimana sama lukamu, Lis?"
“Well, sebentar lagi Ana datang. Tadi aku
sudah sms dia. Sekarang kamu bebas! Sana! Kejar cinta pertamu
atau kamu mau kehilangan selamanya?”
Veron
memejamkan matanya. Sedetik kemudian dia sadar apa maksud perkataan
Alisa. Senyum kebahagiaan kini tersirat dengan jelas dibibir Veron.
“Lis, aku pergi dulu! Kalau udah sampai di RS bilang-bilang. Doain ya!”
ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Alisa sendirian. Semoga berhasil, Veron.
***
Veron memakirkan mobilnya. Dengan langkah tergesa-gesa dicarinya
Frisya. Dilihatnya seorang gadis mengenakan sebuah bando berwarna biru
sedang duduk ditengah-tengah ramainya pengunjung bandara. Veron berlari
menuju gadis itu tanpa melihat tatapan sekelilingnya.
“Fri… Frisya? Ini kamu, kan?” tanya Veron dengan nafas ngos-ngosan.
Frisya menatap Veron heran. Apalagi dengan keadaan Veron sekarang yang
dibilang acak - acakan.
“Ada apa, Ver?” tanya Frisya to the point. Veron
yang masih gugup hanya menatap manik - manik mata Frisya membuat Frisya
semakin bingung. Tiba -tiba saja, tanpa persetujuan Frisya. Veron
menarik pergelangan tangan Frisya.
“Ver, maksudmu apa
ini?” tanya Frisya meminta penjelasan. Veron tetap diam sambil
melangkah ke depan. Frisya semakin kesal dengan Veron yang hanya bisa
diam. Ditariknya pergelangan tangan Frisya dari cekalan Veron. Wajah
Frisya kini berubah merah. Menandakan ia sedang marah.
“Cukup Ver! Kalau mau bahas masalah yang kemaren? Lupakan saja! Yang
salah aku, oke! Puas?” teriak Frisya emosi. Semua orang kini menatap
Frisya dan Veron. Veron menatap Frisya dengan tatapan sendu. Namun
Frisya tidak membalas tatapan Veron itu. Dia berbalik dan pergi
meninggalkan Veron.
“Tunggu, Frisya!” ujar Veron. Frisya tidak mengubris ucapan Veron. Dia tetap melangkahkan kakinya kedepan.
“Frisya! Dengarkan aku dulu!” teriak Veron. Dan sekali lagi Frisya tetap melangkah tanpa mendengar teriakan Veron.
“Tolong dengarkan ini, Frisya Amabela. Aku
mencintaimu!” ujar Veron lembut membuat Frisya berhenti. Veron
melangkahkan kakinya mendekat ke arah Frisya.
“Sejak
pertemuan awal itu. Sejak aku mengenal seseorang gadis, aku mulai
mengerti apa arti cinta pertama. Bertahun - tahun aku dan gadis itu
bersahabat. Sampai suatu ketika aku menyadari bahwa perasaanku berbeda
untuknya. Pernah ku coba untuk melupakannya namun usaha itu gagal.”
“Hatiku telah terpikat oleh hatinya. Dan kini aku berada didepan gadis
itu. Ingin ku sampaikan perasaanku yang selama ini aku pendam. Dan
inilah yang ingin aku katakan selama ini “Ich Liebe Dich, Frisya
Amabela, aku mencintaimu”. Kini, aku bisa mengatakannya. Lalu apa
jawaban dari gadis itu?” tanya Veron lembut sambil memegang kedua tangan
Frisya. Semua pengunjung bandara menatap mereka dengan perasaan campur
aduk. Dari yang iri, senang, bahkan sampai ada yang menangis.
“Jawab! Jawab! Jawab!” hampir semua pengunjung bersorak - sorak
menunggu jawaban Frisya. Frisya berdeham. Membuat suasana kembali lagi.
“Ehm… maaf Veron kayaknya aku… ” jawaban Frisya belum selesai namun
Veron sudah memotong kalimat Frisya. “Aku tau, kamu gak ada rasa sama
aku. Ah, iya kita hanya bisa jadi sahabatan dan tidak akan pernah bisa
lebih!” ujar Veron tersenyum hambar. Kemudian, Veron pergi meninggalkan
Frisya.
“Veron! Tunggu! Aku belum selesai. Ich Liebe
Dich, Alveron Ferdiansyah. Sosok yang selama ini telah merebuh hatiku
dan sekaligus cinta pertamaku. Kami bertemu dalam suatu kejadian yang
tak terduga dan sekarang aku menunggu dia berbalik dan tersenyum
kepadaku!” teriak Frisya. Veron mendengar kalimat yang diucapkan Frisya
kepadanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Dibaliknya tubuhnya dan
berlari menuju Frisya.
“So? Kita? Aku dan kamu
adalah… ” ucap Veron ragu - ragu. Frisya yang mengerti arti kalimat
Veron, mengangguk sebagai jawabannya. Semua pengunjung bandara tersenyum
melihat pasangan yang baru jadian ini.
***
Di tempat lain
Deringan bunyi hape membuat seseorang membuka matanya. Dilihatnya ada sebuah pesan masuk.
To : Alisa
Berhasil! Thanks, Lis. You are the best, of course! And also Vion. :)
Melihat pesan tersebut, Alisa tersenyum puas dengan kabar itu.
Lihat, Vion. Aku berhasil! Aku berhasil, kan? Sekarang kamu tak perlu
cemas dengan mereka. Hiduplah dengan tenang disana. Aku yang akan
menjaga mereka.
Mengenai surat itu,
aku juga mencintaimu Vion. I love you. Walaupun sekarang kita tidak bisa
bertemu namun cinta, yang akan mempertemukan kita di alam sana.
Selamanya, cintaku hanya untukmu, cinta pertamaku, Ravion Saputra.
“janganlah
pernah takut untuk mencintai. Karena cinta adalah sebuah kebahagiaan.
Meskipun kadang hal itu menyakitkan tapi percayalah bahwa cinta akan
membuat bahagia”
Selasa, 21 Mei 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar