Selasa, 21 Mei 2013

It's About Love

  Langit gelap menandakan akan segera turunnya hujan. Seorang gadis duduk tanpa menghiraukan dinginnya angin tersebut. Rintik-rintik hujan mulai turun, namun gadis itu belum pergi meninggalkan tempat itu. Dia berdiri, melangkah kedepan dan berteriak “Aku pasti bisa! Percayakan pada Alisa, Vion!”. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya setelah mengucapkan kata itu. Kemudian, dia langkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

  Keesokan harinya, Alisa berangkat seperti yang biasa ia lakukan. Namun kali ini, ia membawa sebuah surat. Ya! Sebuah surat yang akan menjelaskan semuanya. Ini akan segera berakhir, tidak lama lagi!  Segera, Alisa melajukan motornya dalam keramaian jalanan pagi hari.

  Baru 15 menit ia mengendarai motornya, sebuah mobil menabrak Alisa. Darah mengalir bercucuran dari dengkul dan lengannya namun ia tetap berusaha untuk mengendarai kembali motornya. Meskipun sakit, Alisa berusaha sekuat tenaga. Dia kerahkan sisa tenaganya agar segera sampai di sekolah dan menemui seseorang itu.

***

  Alisa berlari dengan lutut yang berdarah. Dipeganginya lengannya sambil meringis kesakitan. Tiba-tiba, Alisa menangkap sesosok bayangan yang ia cari.. Ya! Dia adalah orang yang ingin ditemui Alisa. Dikejarnya sosok itu, namun bayangan itu semakin menjauh. Alisa merasa tak sanggup lagi untuk mengejar sosok itu. Dia terjatuh, merintih kesakitan. Dicobanya untuk berdiri namun gagal. Apakah aku hanya bisa sampai sini? Tidak! Aku sudah berjanji!

   Dipejamkannya mata Alisa seperti sedang menunggu. Beberapa detik kemudian, dibukanya perlahan matanya dan sebuah teriakan keluar dengan kencang dari bibir Alisa. “Veron!!!”. Teriakan itu berhasil. Ya! Teriakan Alisa berhasil menghentikan langkah Veron. “Veron! Tolong dengarkan aku!” lanjut Alisa.

  Veron memutar tubuhnya dan berjalan menuju Alisa. Sepertinya Veron menuruti permohonan Alisa. “5 menit!” ucapnya dingin tanpa menatap Alisa. “Thanks! Ini, aku hanya ingin kau membaca ini!” ujar Alisa sambil menyodorkan sebuah surat.

  Mata Veron menatap Alisa keheranan. Baru pertama kali Alisa memberikan sebuah surat. Aneh, itulah pikiran Veron sekarang tentang Alisa. Bagaimana bisa seorang Alisa membuat sebuah surat? Alisa bukan orang yang suka dengan hal berbau surat. Dia lebih suka dengan rekaman atau berbicara langsung. Pertanyaan itu terus mengganjal dipikiran Veron. Namun dalam sedetik kemudian, Veron teringat dengan surat itu. Ya! Dia buka surat itu dan perlahan-lahan dia baca.

  Jleb! Jantung Veron seakan berhenti saat membaca sebaris kalimat dalam surat itu. Ya! Ini adalah surat dari dia. Seseorang yang telah membuatnya berhenti meraih cinta.

Buat sohib gue, Alveron Ferdiansyah

  Hei, bro. Gimana kabar lo? Hm, lo masih marah sama gue? Sebenarnya, gue sama Frisya gak ada apa-apa. Suer! Gue nganggep Frisya tuh kayak adek gue sendiri. Jadi, kalau lo kira gue sama Frisya ada hubungan spesial itu salah besar. Adanya hubungan special kakak adik. Hahaha.

  Hmm, jadi lo udah gak marah lagi, kan? Gue harap sih lo maafin gue. Lagian lo kan juga tau, kalau cinta pertama gue adalah Alisa. Masa gue mau ambil cinta pertama sohib gue! Gak keren dong.

  Oke, semua udah beres, kan? Berarti ini hanya kesalahpahaman, kan? So, lo jadi dong nembak si Frisya? Tenang aja, si Frisya tuh juga suka sama lo. Dan gue yakin 100% dia bakal nerima lo. Kalau begitu buruan sana lo tembak si Frisya. Gue doain dari sini.

  Oh iya, Ver tolong bilang ke Alisa bahwa gue suka sama dia dan Alisa adalah cinta pertama gue. Titip Alisa, Ver. Jangan sakiti Alisa kalau lo gak mau arwah gue gentayangan. Satu lagi, tolong cariin cowok yang tepat buat Alisa. Karena gue sekarang udah gak ada dan gak bisa jaga dia lagi. Thanks semuanya, Ver.

  Maafin gue kalau gue banyak salah sama lo. Semoga lo bahagia sama Frisya.

 Bye, Veron


Ravion Saputra


   “Bagaimana? Kamu sudah mengerti, kan?” tanya Alisa tersenyum ke arah Veron. Veron duduk jongkok menghadapkan wajahnya ke Alisa dan memeluknya. “Maafin aku, Lis! Maaf!” ucap Veron dengan suara bergetar. “Kau ini, Veron! Selalu saja berulah. Kali ini aku tidak bisa memaafkanmu!” balas Alisa dengan nada serius. Veron melepaskan pelukannya. Wajahnya menggambarkan penyesalan dan kesedihan.

   Tiba-tiba saja, keheningan itu diisi oleh suara tawa. Suasana berubah. Yang tadinya hening kini terisi oleh suara tawa. Ya! Suara tawa itu berasal dari Alisa. Veron menatap Alisa dengan pandangan tak percaya. Alisa tertawa?

   “Kamu tertawa, Lis? Kam… mu?” ucap Veron terbata-bata terhadap apa yang disaksikannya sekarang.

   “Veron… Veron!!! Mana mungkin aku tidak akan memafkanmu. Huuu!!” ucap Alisa sambil memonyongkan bibirnya. Tanpa sadar Veron langsung memeluk Alisa. Dia tersenyum bahagia. “Thanks Alisa! Hmm, aku tau sekarang mengapa Vion menyukaimu. Karena kamu adalah gadis yang baik hati dan pemaaf!” bisik Veron ditelinga Alisa. Ucapan Veron membuat wajah Alisa bersemu merah karena malu. Diusapnya kepala Alisa oleh Veron karena geli melihat wajah Alisa.

   “Darah?” ucap Veron tiba-tiba saat melihat tangannya ada bekas - bekas darah. Dilihatnya kepala Alisa dan ia menemukan darah mengalir. Mata Veron kini beralih ke wajah Alisa. Ditatapnya Alisa dengan penuh tanda tanya. “Lis, kamu habis kecelakaan?” tanya Veron membuat Alisa terkejut. Alisa diam, panik dan takut bagaimana harus menjawab pertanyaaan Veron itu. Dibenamkannya wajah Alisa membuat Veron semakin yakin bahwa Alisa memang habis kecelakaan.

   “Ayo ikut aku. Aku antar kau ke rumah sakit!” perintah Veron. Diulurkannya tangan Veron ke Alisa dan Alisa membalas uluran itu. “Awww…” teriak Alisa mengerang kesakitan saat mencoba berdiri. Veron melihat itu dan mendapati bahwa lengan dan lutut Alisa berdarah. Dengan sigap, Veron menggendong Alisa dan melangkahkan kakinya menuju parkiran.

   “Ver! Stop! Gak usah dianter ke rumah sakit, oke? I’ll be fine!” ucap Alisa tegas sambil menatap manik-manik mata Veron. Veron tetap melangkahkan kakinya tak peduli dengan ucapan Alisa. “Veron! Please deh! Sekarang tuh Frisya lagi di bandara! Daripada kamu nganterin aku lebih baik kalau kamu ke bandara!”.

   Veron menatap mata Alisa tajam. “Lis, emang aku setega itu? Gak bakalan lah aku ninggalin kamu! Meskipun itu Frisya sendiri! Karena aku sudah berjanji sama Vion dan aku juga gak setega itu ninggalin kamu yang lagi sakit!” ucapnya tersenyum. Alisa terharu mendengar ucapan Veron. Namun,kata hatinya lebih memilih untuk menyuruh Veron menemui Frisya sebelum semuanya ada penyesalan.

“Veron, tolong aku dong.” ujar Alisa memohon. Veron memalingkan wajahnya menatap wajah Alisa dengan senyuman khasnya. “Ada apa?” tanya Veron. "Hmm..., aku ingin kamu ke dia sekarang,” ucap Alisa sambil menatap mata Veron.

"Tapi Lis, kamu itu habis kecelakaan. Masalah dia bisa nanti lagi dan..." ucapan Veron terputus.

"Dengerin aku! Kamu gak perlu khawatir masalah aku, yang penting itu sekarang kamu! Kamu tahu, kan kalau sekarang kamu gak ketemu dia sekarang kamu akan menyesal, Ver! Sana temuin Frsya!" perintah Alisa.

"Tapi gimana sama lukamu, Lis?"

 “Well, sebentar lagi Ana datang. Tadi aku sudah sms dia. Sekarang kamu bebas! Sana! Kejar cinta pertamu atau kamu mau kehilangan selamanya?”
  Veron memejamkan matanya. Sedetik kemudian dia sadar apa maksud perkataan Alisa. Senyum  kebahagiaan kini tersirat dengan jelas dibibir Veron. “Lis, aku pergi dulu! Kalau udah sampai di RS bilang-bilang. Doain ya!” ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Alisa sendirian. Semoga berhasil, Veron.


***

    Veron memakirkan mobilnya. Dengan langkah tergesa-gesa dicarinya Frisya. Dilihatnya seorang gadis mengenakan sebuah bando berwarna biru sedang duduk ditengah-tengah ramainya pengunjung bandara. Veron berlari menuju gadis itu tanpa melihat tatapan sekelilingnya.

  “Fri… Frisya? Ini kamu, kan?” tanya Veron dengan nafas ngos-ngosan. Frisya menatap Veron heran. Apalagi dengan keadaan Veron sekarang yang dibilang acak - acakan.

  “Ada apa, Ver?” tanya Frisya to the point. Veron yang masih gugup hanya menatap manik - manik mata Frisya membuat Frisya semakin bingung. Tiba -tiba saja, tanpa persetujuan Frisya. Veron menarik pergelangan tangan Frisya.

  “Ver, maksudmu apa ini?” tanya Frisya meminta penjelasan. Veron tetap diam sambil melangkah ke depan. Frisya semakin kesal dengan Veron yang hanya bisa diam. Ditariknya pergelangan tangan Frisya dari cekalan Veron. Wajah Frisya kini berubah merah. Menandakan ia sedang marah.

   “Cukup Ver! Kalau mau bahas masalah yang kemaren? Lupakan saja! Yang salah aku, oke! Puas?” teriak Frisya emosi. Semua orang kini menatap Frisya dan Veron. Veron menatap Frisya dengan tatapan sendu. Namun Frisya tidak membalas tatapan Veron itu. Dia berbalik dan pergi meninggalkan Veron.

   “Tunggu, Frisya!” ujar Veron. Frisya tidak mengubris ucapan Veron. Dia tetap melangkahkan kakinya kedepan.

   “Frisya! Dengarkan aku dulu!” teriak Veron. Dan sekali lagi Frisya tetap melangkah tanpa mendengar teriakan Veron.

   “Tolong dengarkan ini, Frisya Amabela. Aku mencintaimu!” ujar Veron lembut membuat Frisya berhenti. Veron melangkahkan kakinya mendekat ke arah Frisya.

   “Sejak pertemuan awal itu. Sejak aku mengenal seseorang gadis, aku mulai mengerti apa arti cinta pertama. Bertahun - tahun aku dan gadis itu bersahabat. Sampai suatu ketika aku menyadari bahwa perasaanku berbeda untuknya. Pernah ku coba untuk melupakannya namun usaha itu gagal.”

   “Hatiku telah terpikat oleh hatinya. Dan kini aku berada didepan gadis itu. Ingin ku sampaikan perasaanku yang selama ini aku pendam. Dan inilah yang ingin aku katakan selama ini “Ich Liebe Dich, Frisya Amabela, aku mencintaimu”. Kini, aku bisa mengatakannya. Lalu apa jawaban dari gadis itu?” tanya Veron lembut sambil memegang kedua tangan Frisya. Semua pengunjung bandara menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Dari yang iri, senang, bahkan sampai ada yang menangis.

  “Jawab! Jawab! Jawab!” hampir semua pengunjung bersorak - sorak menunggu jawaban Frisya. Frisya berdeham. Membuat suasana kembali lagi.

  “Ehm… maaf Veron kayaknya aku… ” jawaban Frisya belum selesai namun Veron sudah memotong kalimat Frisya. “Aku tau, kamu gak ada rasa sama aku. Ah, iya kita hanya bisa jadi sahabatan dan tidak akan pernah bisa lebih!” ujar Veron tersenyum hambar. Kemudian, Veron pergi meninggalkan Frisya.

   “Veron! Tunggu! Aku belum selesai. Ich Liebe Dich, Alveron Ferdiansyah. Sosok yang selama ini telah merebuh hatiku dan sekaligus cinta pertamaku. Kami bertemu dalam suatu kejadian yang tak terduga dan sekarang aku menunggu dia berbalik dan tersenyum kepadaku!” teriak Frisya. Veron mendengar kalimat yang diucapkan Frisya kepadanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Dibaliknya tubuhnya dan berlari menuju Frisya.

     “So? Kita? Aku dan kamu adalah… ” ucap Veron ragu - ragu. Frisya yang mengerti arti kalimat Veron, mengangguk sebagai jawabannya. Semua pengunjung bandara tersenyum melihat pasangan yang baru jadian ini.

***

  Di tempat lain

    Deringan bunyi hape membuat seseorang membuka matanya. Dilihatnya ada sebuah pesan masuk.

To : Alisa
Berhasil! Thanks, Lis. You are the best, of course! And also Vion. :)


   Melihat pesan tersebut, Alisa tersenyum puas dengan kabar itu.

   Lihat, Vion. Aku berhasil! Aku berhasil, kan? Sekarang kamu tak perlu cemas dengan mereka. Hiduplah dengan tenang disana. Aku yang akan menjaga mereka.

  Mengenai surat itu, aku juga mencintaimu Vion. I love you. Walaupun sekarang kita tidak bisa bertemu namun cinta, yang akan mempertemukan kita di alam sana. Selamanya, cintaku hanya untukmu, cinta pertamaku, Ravion Saputra.

   “janganlah pernah takut untuk mencintai. Karena cinta adalah sebuah kebahagiaan. Meskipun kadang hal itu menyakitkan tapi percayalah bahwa cinta akan membuat bahagia”

0 komentar:

Posting Komentar